Iiihhh...ngapain sih repot-repot nyiapin hari tua..gue kan masih muda booo.....
Kebanyakan orang berfikir begitu, saat ditanya, apakah anda sudah mempersiapkan hari tua anda?
Apa yang salah dengan nabung buat masa tua? Ato..mungkin pertanyaannya bisa dimodif.... apa benar kalo dari sekarang kita harus menabung buat hari tua?
Yaaa.... coba dipikir....emang kalo tua, duit kita DIJAMIN tambah banyak? hehehe.... Gak juga lah... mungkin malah tambah sedikit.... secara kita kan udah pensiun.... pasti pemasukan gak ada....malah mungkin pengeluaran tambah banyak.... mungkin untuk bolak-balik ke dokter (hehehe..amit-amit), mungkin untuk jajan cucu... dan PASTI... harga2 melambung karena pengaruh inflasi...
Lah, terus... mesti gimana dong menyiapkan dananya? Niih..ada tips nya...
1. Pilih isntrumen yang minim biaya...misalnya aja.. DPLK (Dana Pensiun lembaga Keuangan). Kalau ikutan DPLK, fasilitas ada pengurangan pajak lhoo.... PPh 21 dan 25 (untuk perusahaan).
2. Pilih arahan investasi yang sesuai dengan karakter...Jadi kalau karakter kita gak berani yang 'nyerempet resiko', ya jangan pilih 'saham'. Tapi perlu saya tambahkan, se-konservatif nya kita, cobalah main di 'saham' walau hanya 5-10% dari total arahan investasi..karena sifat 'saham' adalah cocok untuk jangka panjang... karena return nya bisa melampaui inflasi, dan dengan fluktuasinya, pada saat kita pakai untuk jangka panjang, akan tidak terlalu terasa
3. Konsistenlah menyisihkan uang.... maksimal 20% dari income bulanan kita. Kalau tidak rutin, tentu hasilnya tidak akan terlalu bagus
4. Earlier is better...jelas waktu adalah sekutu kita. kalau kita mulai sekarang, dibanding memulai 10 tahun lagi, modal yang kita setorkan lebih sedikit, dengan hasil yang lebih banyak.....hmmmm....asiikkkk....
Oke... selamat menabung buat pensiun....!!
Showing posts with label investasi. Show all posts
Showing posts with label investasi. Show all posts
MEMILIH INSTRUMEN INVESTASI SESUAI TUJUAN
Sesuai janji saya di bulan lalu, mengenai pemilihan instrumen investasi, maka kali ini saya akan mengulas berbagai pilihan investasi sesuai tujuan kita. Tentu pemilihan instrumen investasi juga erat kaitannya dengan time frame yang kita tetapkan. Ada empat tujuan investasi yang jadi acuan kita dalam memilih instrument:
1. Capital Preservation
Contohnya adalah rencana untuk membayar uang muka rumah; menyekolahkan anak ke perguruan tinggi dalam 3 tahun mendatang, investasi jangka pendek untuk dana darurat bagi berbagai hal yang tidak diperkiraka, atau dana untuk liburan
Instrumen yang dapat digunakan adalah tabungan, dana-dana pasar uang, sertifikat deposito, obligasi berperingkat baik, emas
2. Current Income
Contohnya adalah bila Anda seorang pensiunan dan menginginkan uang tunai untuk membiayai hidup Anda, atau memberikan derma.
Instrumen yang dapat digunakan adalah dengan membeli saham-saham perusahaan yang memiliki sejarah panjang yang baik dalam melakukan pembayaran deviden, obligasi dengan masa jatuh tempo antara 5-8 tahun, real estate melalui REIT*
3. Capital Appreciation
Contohnya adalah Lulusan perguruan tinggi yang sedang membangun kekayaan; orang yang punya waktu lebih dari 10 tahun atau lebih untuk berinvestasi sebelum pensiun.
Instrumen yang dapat digunakan adalah dengan membeli saham-saham dari perusahaan-perusahaan berkualitas yang merupakan pemimpin industri dan memiliki kondisi keuangan keuangan yang sangat kuat, reksadana, real estate melalui REIT*
4. Speculation
Untuk tujuan ini, biasanya hanya untuk orang yang membutuhkan hiburan dalam bentuk lain selain judi. Contohnya adalah memilih saham, trading on margin, membeli saham perusahaan yang tidak Anda ketahui kinerjanya
Oke, mudah-mudahan dengan adanya penjelasan ini Anda tidak salah langkah dalam memilih instrumen investasi
* REIT = Real Estate Investment Trust, perusahaan property
Disadur dari: buku " Investing", Jilid Ketiga, karangan Edward T. Koch, Debra deSalvo,dan Joshua A. Kennon
1. Capital Preservation
Contohnya adalah rencana untuk membayar uang muka rumah; menyekolahkan anak ke perguruan tinggi dalam 3 tahun mendatang, investasi jangka pendek untuk dana darurat bagi berbagai hal yang tidak diperkiraka, atau dana untuk liburan
Instrumen yang dapat digunakan adalah tabungan, dana-dana pasar uang, sertifikat deposito, obligasi berperingkat baik, emas
2. Current Income
Contohnya adalah bila Anda seorang pensiunan dan menginginkan uang tunai untuk membiayai hidup Anda, atau memberikan derma.
Instrumen yang dapat digunakan adalah dengan membeli saham-saham perusahaan yang memiliki sejarah panjang yang baik dalam melakukan pembayaran deviden, obligasi dengan masa jatuh tempo antara 5-8 tahun, real estate melalui REIT*
3. Capital Appreciation
Contohnya adalah Lulusan perguruan tinggi yang sedang membangun kekayaan; orang yang punya waktu lebih dari 10 tahun atau lebih untuk berinvestasi sebelum pensiun.
Instrumen yang dapat digunakan adalah dengan membeli saham-saham dari perusahaan-perusahaan berkualitas yang merupakan pemimpin industri dan memiliki kondisi keuangan keuangan yang sangat kuat, reksadana, real estate melalui REIT*
4. Speculation
Untuk tujuan ini, biasanya hanya untuk orang yang membutuhkan hiburan dalam bentuk lain selain judi. Contohnya adalah memilih saham, trading on margin, membeli saham perusahaan yang tidak Anda ketahui kinerjanya
Oke, mudah-mudahan dengan adanya penjelasan ini Anda tidak salah langkah dalam memilih instrumen investasi
* REIT = Real Estate Investment Trust, perusahaan property
Disadur dari: buku " Investing", Jilid Ketiga, karangan Edward T. Koch, Debra deSalvo,dan Joshua A. Kennon
Tentang Reksadana
Tanya:
Saya mendengar kawan saya berkomentar, bahwa reksadana hanya cocok untuk persiapan pensiun kita, mengingat kondisinya yang naik-turun (volatile). Saya jadi berfikir, kalau setiap hari harus memantau posisi uang saya, ya pusing dong. Apalagi kan kerjaan kita butuh konsentrasi dan perhatian juga. Tolong saya diberi pencerahan.
Terima kasih,
Fanie, Jakarta
Jawab:
Reksadana itu ada bermacam jenis:
1. RD Pasar Uang , portofolionya Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan deposito (pasti aman banget dong, tapi gain-nya paling kecil)
2. RD Pendapatan tetap, portofolionya obligasi Negara (tingkat keamanannya kurang, gain-nya lebih besar dari pasar uang)
3. RD Campuran, portofolionya obligasi Negara dan saham (sedikit lebih bergejoka, gain lebih besar lagi)
4. RD Saham. Isinya saham-saham unggulan (biasanya). Paling bergejolak tapi paling besar gain-nya
Teman yg menyarankan RD buat dana pensiun sama sekali gak salah. Mungkin yang dia ingat hanya RD saham. Nah, dari urutan yg kuuraikan di atas itu, makin ke bawah adalah instrument yg tepat utk jangka panjang. Jadi nomor 1 itu cocok utk penempatan dana dibawah setahun. Dan hukum investasi itu adalah high risk high gain. Kalo mau resiko kecil, berarti juga harus mau dapat untung kecil. Dan RD Saham , memang cocok utk penempatan jangka panjang. Lebih safe kalau di atas 3 tahun….
Banyak sekarang orang muda yg sukanya main RD Saham. Uangnya cepat berkembang. Dan kalau kita percayakan pengelolaan uang kita ke Manajer Investasi yg handal, maka kita nggak perlu pusing mantau pergerakan saham tiap hari.
Saya mendengar kawan saya berkomentar, bahwa reksadana hanya cocok untuk persiapan pensiun kita, mengingat kondisinya yang naik-turun (volatile). Saya jadi berfikir, kalau setiap hari harus memantau posisi uang saya, ya pusing dong. Apalagi kan kerjaan kita butuh konsentrasi dan perhatian juga. Tolong saya diberi pencerahan.
Terima kasih,
Fanie, Jakarta
Jawab:
Reksadana itu ada bermacam jenis:
1. RD Pasar Uang , portofolionya Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan deposito (pasti aman banget dong, tapi gain-nya paling kecil)
2. RD Pendapatan tetap, portofolionya obligasi Negara (tingkat keamanannya kurang, gain-nya lebih besar dari pasar uang)
3. RD Campuran, portofolionya obligasi Negara dan saham (sedikit lebih bergejoka, gain lebih besar lagi)
4. RD Saham. Isinya saham-saham unggulan (biasanya). Paling bergejolak tapi paling besar gain-nya
Teman yg menyarankan RD buat dana pensiun sama sekali gak salah. Mungkin yang dia ingat hanya RD saham. Nah, dari urutan yg kuuraikan di atas itu, makin ke bawah adalah instrument yg tepat utk jangka panjang. Jadi nomor 1 itu cocok utk penempatan dana dibawah setahun. Dan hukum investasi itu adalah high risk high gain. Kalo mau resiko kecil, berarti juga harus mau dapat untung kecil. Dan RD Saham , memang cocok utk penempatan jangka panjang. Lebih safe kalau di atas 3 tahun….
Banyak sekarang orang muda yg sukanya main RD Saham. Uangnya cepat berkembang. Dan kalau kita percayakan pengelolaan uang kita ke Manajer Investasi yg handal, maka kita nggak perlu pusing mantau pergerakan saham tiap hari.
Jadilah Orang Beriman
Apa hubungannya investasi dengan iman ya? Coba aja kita cermati. Tapi jangan sampe kita beriman sama uang, bisa celaka.
Oya, beberapa hari ini emang keliatan ya, ada trend positif dari indeks BEI. Kayaknya sih gak mau ketinggalan sama bursa-bursa dunia yg responsnya positif terhadap penurunan (kembali) suku bunga the Fed minggu lalu. Mudah2an memang naik terusss… amin
Lagi puyeng2, ah, ngoceh aja sama seorang Om pelaku pasar modal. Beliau cerita, bahwa inflasi bulan ini sangat mengkhawatirkan. Menurut beliau, hal termudah untuk melihat besarnya inflasi adalah dengan melihat harga cabe. Ha? Hanya cabe? Iya! Lalu dia berargumen,”Kapan inflasi tertinggi sepanjang tahun? Menjelang lebaran. Kok tau? Karena harga cabe pasti melambung. Coba lu sensus orang Indonesia yg gak hobi makan cabe. Semua suka pedes!”
Hmmm…..boleh juga teorinya…..
Dan memang bulan ini harga cabe gila-gilaan… sayangnya, petani cabe kok ya gak kaya-kaya…
Yah, di dunia kapitalis ini, yg pegang permainan ya yang punya uang banyak….dan sepertinya ini memang permainan ‘orang atas’. Au ah, gelap! Pesan sponsor: kalo berbisnis, pake nurani lah…
Tapi memang ya, buat kita2 (setidaknya buat saya) yg kerjanya di dunia perduitan, sepertinya gak ada rasanya tuh, inflasi yg katanya menghebohkan. Yg keliatan hanya angka2 yg (katanya) mengandung arti mengerikan. Tapi pas nonton TV, duh, rasanya , miris banget ya. Ada ibu hamil 7 bulan ditemukan meninggal berdua dengan anaknya. Indikasi: kelaparan. Anak yg lain, masuk UGD karena kelaparan juga. Bapaknya hanya tukang becak. Duh…duh… inflasi memang kurang kerasa buat kita2 yg mampu, tapi untuk golongan menengah ke bawah… mencekik sekali…
Jadi mesti inget kalo di harta kita ada bagian orang gak mampu…
Terakhir, si Om tadi punya kata2 mutiara,”Dalam berinvestasi, jadilah orang beriman. Tau kunci orang beriman? Sabar dan bersyukur. Sabar, nunggu naiknya harga unit yg beberapa bulan ini mencemaskan… lalu bersyukurlah saat naik. Waktu kita perlu uang dan unitnya kita cairkan, maka besar-kecilnya hasil yg kita dapatkan harus disyukuri. Jangan juga jadi orang rakus. Mentang2 trend naik terus, lalu menunda-nunda pencairan dengan harapan besok dapet untung lebih gede lagi. Belum tentu juga, harga besok naik lagi. Lha kalo turun?”
Yang penting juga, kata si Om, jangan sombong karena merasa pinter. Dunia ini bukan kita yg mengendalikan. Jadi saat kita merasa pinter, justru di situlah awal jatuhnya kita. Banyak faktor2 eksternal yg menentukan besaran hasil investasi.
Yang paling penting, last but not least, jangan berinvestasi dari hasil utangan!!
Makasih buat wejangannya ya Om...
Oya, beberapa hari ini emang keliatan ya, ada trend positif dari indeks BEI. Kayaknya sih gak mau ketinggalan sama bursa-bursa dunia yg responsnya positif terhadap penurunan (kembali) suku bunga the Fed minggu lalu. Mudah2an memang naik terusss… amin
Lagi puyeng2, ah, ngoceh aja sama seorang Om pelaku pasar modal. Beliau cerita, bahwa inflasi bulan ini sangat mengkhawatirkan. Menurut beliau, hal termudah untuk melihat besarnya inflasi adalah dengan melihat harga cabe. Ha? Hanya cabe? Iya! Lalu dia berargumen,”Kapan inflasi tertinggi sepanjang tahun? Menjelang lebaran. Kok tau? Karena harga cabe pasti melambung. Coba lu sensus orang Indonesia yg gak hobi makan cabe. Semua suka pedes!”
Hmmm…..boleh juga teorinya…..
Dan memang bulan ini harga cabe gila-gilaan… sayangnya, petani cabe kok ya gak kaya-kaya…
Yah, di dunia kapitalis ini, yg pegang permainan ya yang punya uang banyak….dan sepertinya ini memang permainan ‘orang atas’. Au ah, gelap! Pesan sponsor: kalo berbisnis, pake nurani lah…
Tapi memang ya, buat kita2 (setidaknya buat saya) yg kerjanya di dunia perduitan, sepertinya gak ada rasanya tuh, inflasi yg katanya menghebohkan. Yg keliatan hanya angka2 yg (katanya) mengandung arti mengerikan. Tapi pas nonton TV, duh, rasanya , miris banget ya. Ada ibu hamil 7 bulan ditemukan meninggal berdua dengan anaknya. Indikasi: kelaparan. Anak yg lain, masuk UGD karena kelaparan juga. Bapaknya hanya tukang becak. Duh…duh… inflasi memang kurang kerasa buat kita2 yg mampu, tapi untuk golongan menengah ke bawah… mencekik sekali…
Jadi mesti inget kalo di harta kita ada bagian orang gak mampu…
Terakhir, si Om tadi punya kata2 mutiara,”Dalam berinvestasi, jadilah orang beriman. Tau kunci orang beriman? Sabar dan bersyukur. Sabar, nunggu naiknya harga unit yg beberapa bulan ini mencemaskan… lalu bersyukurlah saat naik. Waktu kita perlu uang dan unitnya kita cairkan, maka besar-kecilnya hasil yg kita dapatkan harus disyukuri. Jangan juga jadi orang rakus. Mentang2 trend naik terus, lalu menunda-nunda pencairan dengan harapan besok dapet untung lebih gede lagi. Belum tentu juga, harga besok naik lagi. Lha kalo turun?”
Yang penting juga, kata si Om, jangan sombong karena merasa pinter. Dunia ini bukan kita yg mengendalikan. Jadi saat kita merasa pinter, justru di situlah awal jatuhnya kita. Banyak faktor2 eksternal yg menentukan besaran hasil investasi.
Yang paling penting, last but not least, jangan berinvestasi dari hasil utangan!!
Makasih buat wejangannya ya Om...
BENTUK INVESTASI ALA IBU RUMAH TANGGA
Beberapa hari ini saya melihat iklan suplemen khusus wanita yang mengusik pikiran saya. Di iklan itu, digambarkan seorang wanita yang ‘hebat’ memiliki banyak peran. Sebagai ibu, guru sang anak, menteri keuangan di rumah, bagian pembelanjaan, koki dan juga dia masih bisa berolahraga. Yah…pokoknya ‘banyak tangan banyak kaki’ deh. Yang jelas, peran pria memang ditakdirkan tidak sebanyak wanita (para wanita, mari kita geer…).
Maaf ya, bapak-bapak… tulisan saya sama sekali tidak ingin membahas keunggulan kaum saya… jadi tolong jangan sewot dulu...
Kembali ke topik semula… sebenarnya saya merasa tuntutan keluarga terhadap wanita itu terlalu banyak, sampai-sampai sering kita (baca:wanita) tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Boro-boro ke salon buat merawat badan, beres-beres rumah aja sering kita perlu bantuan si bibik. Jadi memang perlu pinter-pinternya wanita untuk mensiasati semua tugas.
Sebagai seorang wanita menikah dan punya anak, tentunya hal yang sangat wajar kalau saya memimpikan selalu ada di dekat anak-anak sepanjang hari. Tentu selama mereka di rumah dan tidak beraktifitas di sekolah atau pergi les. Hanya saja, sering juga saya dihadapkan pada dilema antara berada di rumah atau membantu suami mencari nafkah. Tujuannya, ya menambah penghasilan. Karena hampir tidak mungkin menekan pengeluaran di tengah harga-harga yang tiap hari semakin menggila. Tapi saya akhirnya berfikir, kalau saya bekerja di luar rumah nine-to-five, seringkali hasil yang saya dapat tidak sepadan dengan ‘reward’ yang saya terima. ‘reward’ yang saya maksud adalah, kondisi rumah tangga, termasuk di dalamnya adalah pengurusan anak (belajarnya, makannya, kedekatan psikologisnya dengan orangtua).
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya harus banyak berada di rumah. Perkara menambah penghasilan, harus dilakukan (sebagian besar) dari rumah. Dan saya juga harus pandai mencari penghasilan lain, tanpa harus kerja. Istilah kerennya passive income...
Passive income ala ibu-ibu rumah tangga menurut saya adalah berinvestasi. Dengan berinvestasi, uang kita akan berkembang terus. Kenapa sih, istilahnya ‘investasi’? karena kalau saya pakai istilah ‘menabung’, maka asumsinya adalah menggunakan instrumen keuangan perbankan atau di bawah bantal (jadi bolehlah kita masukkan ‘bantal’ sebagai sebuah tempat menyimpan uang…hehehe)….sehingga, resiko penurunan nilai uang akan semakin besar. Dan, batallah kita punya passive income…
Saya mencoba mendata beberapa instrumen investasi ala ibu-ibu, plus kelebihan dan kekurangannya:
Akhirnya, memang jadi ibu harus pandai memilih bentuk investasi, supaya gak dipelototin suami….
Maaf ya, bapak-bapak… tulisan saya sama sekali tidak ingin membahas keunggulan kaum saya… jadi tolong jangan sewot dulu...
Kembali ke topik semula… sebenarnya saya merasa tuntutan keluarga terhadap wanita itu terlalu banyak, sampai-sampai sering kita (baca:wanita) tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Boro-boro ke salon buat merawat badan, beres-beres rumah aja sering kita perlu bantuan si bibik. Jadi memang perlu pinter-pinternya wanita untuk mensiasati semua tugas.
Sebagai seorang wanita menikah dan punya anak, tentunya hal yang sangat wajar kalau saya memimpikan selalu ada di dekat anak-anak sepanjang hari. Tentu selama mereka di rumah dan tidak beraktifitas di sekolah atau pergi les. Hanya saja, sering juga saya dihadapkan pada dilema antara berada di rumah atau membantu suami mencari nafkah. Tujuannya, ya menambah penghasilan. Karena hampir tidak mungkin menekan pengeluaran di tengah harga-harga yang tiap hari semakin menggila. Tapi saya akhirnya berfikir, kalau saya bekerja di luar rumah nine-to-five, seringkali hasil yang saya dapat tidak sepadan dengan ‘reward’ yang saya terima. ‘reward’ yang saya maksud adalah, kondisi rumah tangga, termasuk di dalamnya adalah pengurusan anak (belajarnya, makannya, kedekatan psikologisnya dengan orangtua).
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya harus banyak berada di rumah. Perkara menambah penghasilan, harus dilakukan (sebagian besar) dari rumah. Dan saya juga harus pandai mencari penghasilan lain, tanpa harus kerja. Istilah kerennya passive income...
Passive income ala ibu-ibu rumah tangga menurut saya adalah berinvestasi. Dengan berinvestasi, uang kita akan berkembang terus. Kenapa sih, istilahnya ‘investasi’? karena kalau saya pakai istilah ‘menabung’, maka asumsinya adalah menggunakan instrumen keuangan perbankan atau di bawah bantal (jadi bolehlah kita masukkan ‘bantal’ sebagai sebuah tempat menyimpan uang…hehehe)….sehingga, resiko penurunan nilai uang akan semakin besar. Dan, batallah kita punya passive income…
Saya mencoba mendata beberapa instrumen investasi ala ibu-ibu, plus kelebihan dan kekurangannya:
- Tanah. Jelas kelebihannya adalah harganya akan naik terus dalam jangka panjang. Dan selama kita teliti waktu membeli, tentu tidak akan ada resiko bakal diutak-atik oleh pihak lain. Kekurangannya: sulit mendapat dana likuid. Kalau kita perlu uang, belum tentu ada pembeli dalam waktu singkat. Apalagi kalau ada bencana alam model lumpur Lapindo. Waduh, siapa yang mau beli tanah di situ?
- Rumah/apartemen. Rumah disini maksudnya adalah rumah kedua selain rumah yang kita tempati. Fungsinya adalah sebagai rumah kontrakan atau kos-kosan. Tentu kalau ada penyewa, setiap bulan/tahun kita akan mendapat uang cash sebagai passive income. Bisa juga kalau nanti kita perlu uang banyak, ya tinggal dijual saja…
Kekurangannya jelas: kalau penyewanya nakal, kita yang buntung. Ada seorang rekan saya, punya rumah kontrakan. Ternyata penyewanya kabur dengan meninggalkan tunggakan listrik dan telpon yang nilainya jutaan. Bukannya untung malah akhirnya sang pemilik rumah harus nombok…..
Kalau anda punya rumah lebih dari satu, jangan biarkan kosong dalam waktu yang lama. Bukannya takut jadi rumah hantu, tapi biasanya rumah yang kosong akan lebih cepat rusak dibanding rumah yang berpenghuni. Jadi, bukannya mendatangkan uang,malah menguras uang. Lebih baik disewakan saja… dengan catatan semua resiko yang mungkin muncul sudah kita antisipasi. - Ruko/rukan. Enak juga punya investasi model seperti ini. Kalau kita jeli melihat lokasi, tentu kita akan selalu mendapatkan penyewa. Resikonya, kurang lebih sama dengan invest di rumah/apartemen.
- Emas. Nah, ini pasti favorit para ibu. Sambil invest, bisa gaya. Kita semua tahu, tidak pernah ada dalam sejarah, harga emas bisa turun. Bahkan saat harga minyak mentah dunia turunpun, harga emas masih saja naik. Kelebihannya jelas: mempercantik penampilan, meningkatkan ‘status’.
Kekurangannya: sulit menyimpannya.
Kok sulit? Iya. Resiko hilangnya sangat besar. Bisa karena kita teledor menyimpan, atau karena dicuri. Amit-amit dirampok! Nah, kalau mau aman, ya sewa safe deposit box di bank. Masalahnya, menyewa SDB pun perlu uang. Apakah uang yang kita pakai untuk menyewa lebih kecil dibanding keuntungan yang kita dapat dari selisih nilai jual emas saat kita perlu uang cash? Kalau tidak, maka sekali lagi, bukan passive income, tapi nombok yang kita lakukan… - Surat berharga. Bisa berupa surat hutang, obligasi, reksadana…..yang ini memang tidak semua ibu tahu. Hanya yang well informed saja yang mengerti. Kelebihannya jelas: bisa menjadi sumber uang kita saat harga penjualannya lebih tinggi daripada harga saat kita beli. Kekurangannya, tentu saat kita salah menentukan antara jangka waktu uang akan digunakan dengan model investasinya, bisa-bisa celaka limabelas! Misalkan, ambil investasi di reksadana saham, agar keuntungannya bisa dipakai bulan depan. Lha, bulan depan, harga saham turun drastis, ya sudah tamat! Sekedar info, reksadana saham hanya cocok untuk jangka menengah-panjang.
Kekurangannya yang lain adalah kita bisa saja tertipu oleh badan yang menawarkan surat-surat berharga ini. Di Indonesia, banyak kasus penipuan investasi. Dan dana yang berhasil dihimpun oleh para penipu ini bisa mencapai trilyunan untuk satu kasus. Gila? Memang. Ini adalah hasil kombinasi dari kecerdikan penipu, keserakahan dan kebodohan manusia, plus kelonggaran pihak otoritas keuangan dalam pengawasan.
Akhirnya, memang jadi ibu harus pandai memilih bentuk investasi, supaya gak dipelototin suami….
Bapepam & BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana
Usulan pemerintah menerapkan pajak final sebesar 0,05% terhadap reksa dana mendapat penolakan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany mengaku kaget terhadap usulan tersebut.
Dia menilai pemberlakuan pajak penarikan [redemption] bukan hal yang tepat saat ini.
"Bapepam-LK mengharapkan jangan ada penerapan pajak sebesar 0,05% saat investor melakukan redemption reksa dana," ujarnya kemarin.
Namun, dia enggan menjelaskan lebih jauh mengenai pengaruh kebijakan reksa dana tersebut pada industri reksa dana. "Saya mendingan enggak ngomong. Biar pemerintah saja yang berbicara."
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah mengatakan penerapan pajak saat pencairan (redemption) reksa dana sebesar 0,05% akan menurunkan minat investor terhadap produk investasi ini. "Salah satu daya tarik reksa dana terhadap investor adalah tidak ada pajak final. Jika rencana ini diterapkan, minat investor pada produk ini akan turun."
Dia menuturkan usulan tersebut menyebabkan kemunduran pada industri reksa dana. Erry menyesalkan pajak final reksa dana ini baru dikaji sekarang oleh pemerintah.
"Kenapa baru sekarang, kan bisa dari dulu kalau mau dikenalkan pajak. Minat investor kemungkinan besar akan turun, namun berapa persentasenya saya belum tahu."
Masih dibahas Dirjen Pajak
Darmin Nasution menyatakan usulan besaran tarif PPh final untuk reksa dana belum tuntas dibahas oleh pemerintah dan DPR sehingga berpotensi untuk berubah. "[Pembahasannya] belum tuntas, biarkan berjalan prosesnya," katanya, kemarin.
Dia menuturkan saat mengajukan amendemen UU PPh, rumusan PPh Final untuk reksa dana ini sempat ditolak oleh parlemen dan sejumlah kalangan lain. Namun, setelah mengetahui akan dikenakan tarif normal, akhirnya usulan ini diterima dan tinggal dibahas besarannya.
Pendapat berbeda muncul dari pelaku pasar modal. Direktur Fund Management Nikko Securities Adler Haymans Manurung menilai pengenaan pajak ketika redemption merupakan kebijakan tepat.
Namun, dia meminta supaya besaran pajak lebih kecil dari 0,05%. Selain itu dia meminta agar semua instrumen yang menjadi underlying asset dibebaskan sama sekali. "Cukup pajak di akhir saat pencairan, sehingga lebih jelas. Manajer investasi diuji kemampuannya untuk meningkatkan tingkat pengembalian."
Sebagai perbandingan, di negara maju seperti AS pajak reksa dana dikenakan terhadap distribusi dividen dan keuntungan yang didapat atas aset yang mendasarinya a.l. saham. Namun, jika reksa dana itu beraset obligasi daerah yang bebas pajak otomatis pajak terhadap investasi tersebut dibebaskan. (04/Pudji Lestari/Ahmad Muhibbuddin/Abraham Runga) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia, 15 Februari 2008
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany mengaku kaget terhadap usulan tersebut.
Dia menilai pemberlakuan pajak penarikan [redemption] bukan hal yang tepat saat ini.
"Bapepam-LK mengharapkan jangan ada penerapan pajak sebesar 0,05% saat investor melakukan redemption reksa dana," ujarnya kemarin.
Namun, dia enggan menjelaskan lebih jauh mengenai pengaruh kebijakan reksa dana tersebut pada industri reksa dana. "Saya mendingan enggak ngomong. Biar pemerintah saja yang berbicara."
Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah mengatakan penerapan pajak saat pencairan (redemption) reksa dana sebesar 0,05% akan menurunkan minat investor terhadap produk investasi ini. "Salah satu daya tarik reksa dana terhadap investor adalah tidak ada pajak final. Jika rencana ini diterapkan, minat investor pada produk ini akan turun."
Dia menuturkan usulan tersebut menyebabkan kemunduran pada industri reksa dana. Erry menyesalkan pajak final reksa dana ini baru dikaji sekarang oleh pemerintah.
"Kenapa baru sekarang, kan bisa dari dulu kalau mau dikenalkan pajak. Minat investor kemungkinan besar akan turun, namun berapa persentasenya saya belum tahu."
Masih dibahas Dirjen Pajak
Darmin Nasution menyatakan usulan besaran tarif PPh final untuk reksa dana belum tuntas dibahas oleh pemerintah dan DPR sehingga berpotensi untuk berubah. "[Pembahasannya] belum tuntas, biarkan berjalan prosesnya," katanya, kemarin.
Dia menuturkan saat mengajukan amendemen UU PPh, rumusan PPh Final untuk reksa dana ini sempat ditolak oleh parlemen dan sejumlah kalangan lain. Namun, setelah mengetahui akan dikenakan tarif normal, akhirnya usulan ini diterima dan tinggal dibahas besarannya.
Pendapat berbeda muncul dari pelaku pasar modal. Direktur Fund Management Nikko Securities Adler Haymans Manurung menilai pengenaan pajak ketika redemption merupakan kebijakan tepat.
Namun, dia meminta supaya besaran pajak lebih kecil dari 0,05%. Selain itu dia meminta agar semua instrumen yang menjadi underlying asset dibebaskan sama sekali. "Cukup pajak di akhir saat pencairan, sehingga lebih jelas. Manajer investasi diuji kemampuannya untuk meningkatkan tingkat pengembalian."
Sebagai perbandingan, di negara maju seperti AS pajak reksa dana dikenakan terhadap distribusi dividen dan keuntungan yang didapat atas aset yang mendasarinya a.l. saham. Namun, jika reksa dana itu beraset obligasi daerah yang bebas pajak otomatis pajak terhadap investasi tersebut dibebaskan. (04/Pudji Lestari/Ahmad Muhibbuddin/Abraham Runga) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia, 15 Februari 2008
Reksa Dana Kena Pajak Final
Setelah bertahuntahun bebas pajak, mulai 1 Januari tahun depan penjualan produk reksa dana akan dikenai pajak final.
Pemerintah dan Panitia Kerja DPR dalam rapat tertutup pembahasan Rancangan Undang-Undang Pajak Penghasilan (RUU PPh) kemarin sepakat mengenakan pajak final tersebut dalam industri reksa dana. "Pemerintah dan DPR sepakat untuk memberikan pajak final, tetapi besaran tarif dan prosedurnya masih akan dibahas lebih lanjut dalam pasal selanjutnya," ujar anggota Panja RUU PPh dari Fraksi Keadilan Sejahtera Andi Rahmat seusai rapat tertutup di ruangan Komisi XI DPR Jakarta kemarin.
Pertimbangan utama pengenaan pajak itu, jelas Andi, karena pasar reksa dana di Indonesia telah menjelma menjadi industri besar yang cukup diminati. Artinya, ada potensi penerimaan negara yang cukup menggiurkan dari industri tersebut. Selain itu, imbuh dia, di negara lain pun pajak tersebut sudah diterapkan.
"Dinegara lain, reksadana ini sudah dipajaki, di Singapura sih tidak karena mereka kan penduduknya sedikit, hanya 4 juta jiwa," tuturnya.
Andi mengatakan, tarif PPh final yang diusulkan pemerintah sebesar 0,05%. Tarif itu dikenakan ketika investor melakukan penjualan (redemption) terhadap produk reksa dananya. Namun, belum ada kesepakatan apakah usulan besaran tarif itu akan disepakati. "Tapi, tidak memajaki juga tidak masuk akal, jadi kita harus kompromi," cetusnya.
Berdasarkan penuturan Andi dan beberapa anggota Pansus RUU PPh lainnya, pemerintah dinilai cukup mendesak agar usulan pajak reksa dana tersebut disepakati. Namun, anggota Panja RUU PPh dari Fraksi Partai Golkar Awal Kusumah mengatakan, DPR bersikap berhati-hati ketika menyepakati pajak final reksa dana itu karena bisa berdampak pada industri keuangan nasional.
"Kalau berpengaruh kepada pasar, kita harus hatihati memutuskannya. Kalau jatuhnya lebih besar ke pasar, ya jangan dong. Di sinilah alotnya pembahasan, jangan sampai instrumen yang sudah bagus malah hancur,"tandas Awal.
Kolega Awal di Partai Golkar Harry Azhar Azis mengatakan hal yang sama. Menurut dia, DPR betul-betul menekankan pertimbangan agar sisi positif pengenaan pajak itu lebih besar dibandingkan sisi negatifnya. Sisi positifnya, kata dia, memang akan ada peningkatan pendapatan negara. Namun di sisi lain,kebijakanitu akan dapat menekan pertumbuhan pasar reksa dana. "Jadi, khusus mengenai masalah reksa dana ini, kita pertimbangkan positif dan negatifnya. Terkena atau nggak," kata dia.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Wakil Manajer Investasi Indonesia Putut E Andanawarih mengatakan, industri reksa dana seharusnya diberi insentif, bukan pajak, karena ikut menyediakan dana jangka panjang. pemberian pajak itu menurut dia akan berdampak terhadap industri reksa dana.
"Jika pemberian pajak tersebut terhadap semua industri reksa dana, itu akan membuat reksa dana tidak berkembang," kata dia kepada SINDO kemarin.
Dia menilai, besaran 0,05 % memang terbilang tidak terlalu besar. Namun, tegas dia, hal itu pun masih belum jelas. Penerapan pajak ini, kata dia, harus melalui langkah sosialisasi kepada investor agar tidak terjadi kebingungan. Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Danal ndonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto yang dihubungi SINDO mengaku belum bisa berkomentar mengingat informasi mengenai pengenaan pajak reksa dana itu belum jelas.
Namun, dalam sebuah diskusi sebelumnya, Abiprayadi menyampaikan penilaian soal pengenaan pajak terhadap reksa dana. Dia menilai pemberian pajak akan merugikan karena reksa dana adalah sarana yang tepat untuk membangun basis investor untuk mencari dana. Reksa dana, kata dia, adalah sarana membangun dana jangka panjang yang bisa digunakan untuk emiten, bahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. "Untuk itu, perlu diberi kompensasi yang bagus," kata dia.
Sementara itu, masih dalam diskusi yang sama,Kepala Biro Pengelolaan Investasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Djoko Hendratto mengatakan, meski masih belum jelas berapa persen pajak yang akan dikenakan, dia menilai pada akhirnya industri reksa dana akan melakukan penyesuaian. "Nantinya market akan melakukan penyesuaian sendiri," kata dia.
Harian Seputar Indonesia; Kamis, 14 Feb 2008
sumber: http://www.pajak.go.id/berita/reksa-dana-kena-pajak-final
Pemerintah dan Panitia Kerja DPR dalam rapat tertutup pembahasan Rancangan Undang-Undang Pajak Penghasilan (RUU PPh) kemarin sepakat mengenakan pajak final tersebut dalam industri reksa dana. "Pemerintah dan DPR sepakat untuk memberikan pajak final, tetapi besaran tarif dan prosedurnya masih akan dibahas lebih lanjut dalam pasal selanjutnya," ujar anggota Panja RUU PPh dari Fraksi Keadilan Sejahtera Andi Rahmat seusai rapat tertutup di ruangan Komisi XI DPR Jakarta kemarin.
Pertimbangan utama pengenaan pajak itu, jelas Andi, karena pasar reksa dana di Indonesia telah menjelma menjadi industri besar yang cukup diminati. Artinya, ada potensi penerimaan negara yang cukup menggiurkan dari industri tersebut. Selain itu, imbuh dia, di negara lain pun pajak tersebut sudah diterapkan.
"Dinegara lain, reksadana ini sudah dipajaki, di Singapura sih tidak karena mereka kan penduduknya sedikit, hanya 4 juta jiwa," tuturnya.
Andi mengatakan, tarif PPh final yang diusulkan pemerintah sebesar 0,05%. Tarif itu dikenakan ketika investor melakukan penjualan (redemption) terhadap produk reksa dananya. Namun, belum ada kesepakatan apakah usulan besaran tarif itu akan disepakati. "Tapi, tidak memajaki juga tidak masuk akal, jadi kita harus kompromi," cetusnya.
Berdasarkan penuturan Andi dan beberapa anggota Pansus RUU PPh lainnya, pemerintah dinilai cukup mendesak agar usulan pajak reksa dana tersebut disepakati. Namun, anggota Panja RUU PPh dari Fraksi Partai Golkar Awal Kusumah mengatakan, DPR bersikap berhati-hati ketika menyepakati pajak final reksa dana itu karena bisa berdampak pada industri keuangan nasional.
"Kalau berpengaruh kepada pasar, kita harus hatihati memutuskannya. Kalau jatuhnya lebih besar ke pasar, ya jangan dong. Di sinilah alotnya pembahasan, jangan sampai instrumen yang sudah bagus malah hancur,"tandas Awal.
Kolega Awal di Partai Golkar Harry Azhar Azis mengatakan hal yang sama. Menurut dia, DPR betul-betul menekankan pertimbangan agar sisi positif pengenaan pajak itu lebih besar dibandingkan sisi negatifnya. Sisi positifnya, kata dia, memang akan ada peningkatan pendapatan negara. Namun di sisi lain,kebijakanitu akan dapat menekan pertumbuhan pasar reksa dana. "Jadi, khusus mengenai masalah reksa dana ini, kita pertimbangkan positif dan negatifnya. Terkena atau nggak," kata dia.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Wakil Manajer Investasi Indonesia Putut E Andanawarih mengatakan, industri reksa dana seharusnya diberi insentif, bukan pajak, karena ikut menyediakan dana jangka panjang. pemberian pajak itu menurut dia akan berdampak terhadap industri reksa dana.
"Jika pemberian pajak tersebut terhadap semua industri reksa dana, itu akan membuat reksa dana tidak berkembang," kata dia kepada SINDO kemarin.
Dia menilai, besaran 0,05 % memang terbilang tidak terlalu besar. Namun, tegas dia, hal itu pun masih belum jelas. Penerapan pajak ini, kata dia, harus melalui langkah sosialisasi kepada investor agar tidak terjadi kebingungan. Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Danal ndonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto yang dihubungi SINDO mengaku belum bisa berkomentar mengingat informasi mengenai pengenaan pajak reksa dana itu belum jelas.
Namun, dalam sebuah diskusi sebelumnya, Abiprayadi menyampaikan penilaian soal pengenaan pajak terhadap reksa dana. Dia menilai pemberian pajak akan merugikan karena reksa dana adalah sarana yang tepat untuk membangun basis investor untuk mencari dana. Reksa dana, kata dia, adalah sarana membangun dana jangka panjang yang bisa digunakan untuk emiten, bahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur. "Untuk itu, perlu diberi kompensasi yang bagus," kata dia.
Sementara itu, masih dalam diskusi yang sama,Kepala Biro Pengelolaan Investasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Djoko Hendratto mengatakan, meski masih belum jelas berapa persen pajak yang akan dikenakan, dia menilai pada akhirnya industri reksa dana akan melakukan penyesuaian. "Nantinya market akan melakukan penyesuaian sendiri," kata dia.
Harian Seputar Indonesia; Kamis, 14 Feb 2008
sumber: http://www.pajak.go.id/berita/reksa-dana-kena-pajak-final
Hindari Kerugian Investasi Akibat Bias Psikologis
Mengembangkan sebuah perencanaan investasi termasuk langkah yang tidak terlalu sulit, akan tetapi terus berjalan dalam perencanaan yang telah ditetapkan untuk jangka panjang sangatlah sulit. Kebanyakan investor sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tamak (greed) dan takut (fear). Bila pasar sedang bergejolak, investor jadi takut. Bukannya menjual pada saat harga sedang naik malah menjual saat turun. “Hot tip” yang diberikan teman terkadang juga dijadikan satu-satunya masukan dengan harapan menjadi miluner dalam waktu pendek.
Mereka melakukan hal tersebut karena mereka manusia dan mereka juga kurang memiliki ketetapan hati dalam melaksanakan perencanaan yang telah dibuat atau malah tidak memiliki perencanaan investasi sama sekali. Kita sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi semata yang bisa sangat merusak investasi yang telah dilakukan.
Dalam pembahasan kali ini kami mencoba memberikan perspektif dalam mengatasi dan mengenali sifat ini dan menjelaskan pentingnya sebuah perencanaan yang berkesinambungan guna mencapai tujuan yang diidamkan.
Tamak (“Greed”)
Sifat Pertama adalah Tamak (Greed). Sering terjadi, akibat ingin buru-buru mendapatkan keuntungan besar, investor lupa untuk berpikir rasional dan bertindak berdasarkan “naluri” yang ternyata lebih bersifat emosional. Misalnya, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat dari level 400-an dan untuk pertama kalinya kembali menembus ke level 700-an, banyak investor baru terangsang emosi tamaknya.
Saat itu, melihat banyak rekan atau tetangga mereka mendadak bisa beli mobil baru karena investasi di saham, para investor lugu tersebut tanpa pikir panjang langsung ikutan beli saham. Sayangnya, tak lama setelah mereka beli saham, IHSG justru menurun.
Apa jadinya? Karena kurangnya pengetahuan serta pola investasi yang sesuai bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian. Maunya untung malah buntung.
Investor sangat dipengaruhi oleh informasi seputar performa sebuah investasi. Keputusan untuk mendapatkan keuntungan didasari oleh performa masa lalu sebuah investasi. Seperti kita ketahui, “past performance is no guarantee of future results”. Mungkin pada masa tersebut sebuah sektor yang dipilih oleh manajer investasi memberikan keuntungan yang tinggi. Begitu Anda mulai melihat pertumbuhan dari investasi tersebut Anda baru masuk. Namun, setelah beberapa waktu, sektor tersebut mulai melemah dan malah merugi.
Ekspektasi yang berlebihan
Karena investor merasa sangat tamak, hal ini bisa mengakibatkan Anda menjadi sangat mengharapkan sesuatu diluar kebiasaan tentang risiko investasi maupun keuntungan investasi. Menabung menjadi kurang dan mengakibatkan tidak tercapai tujuan yang diinginkan karena Anda mengharapkan keuntungan invetsai yang tidak realistik. Bila harapan Anda tidak terwujud Anda harus mencari alternatif investasi lain yang mungkin saja lebih tidak realistik, dengan harapan dapat mengejar kekurangan yang selama ini terjadi.
Takut (“Fear”)
Saat IHSG mulai menurun (lanjutan cerita diatas), pendulum emosi para investor baru tersebut beralih dari tamak menjadi Takut (Fear). Akibatnya mereka beramai-ramai keluar dari pasar. Jadi yang mereka lakukan bukannya beli murah jual mahal, melainkan beli mahal, jual murah, alias rugi.
Timbul rasa takut dikarenakan adanya potensi kerugian. Banyak research yang mengatakan bahwa kita lebih membeci kehilangan atau kekalahan dari pada kita mencintai kemenangan. Mengikuti perkembangan portfolio atau investasi yang Anda miliki setiap saat bisa sangat membahayakan. Seperti halnya bila Anda menginvestasikan dana di saham.
Bila Anda mengikuti perkembangan setiap saat, bila kecenderungan pasar lagi turun, Anda terangsang untuk menjual saham yang Anda miliki. Karena informasi yang diperoleh hampir setiap hari, seringkali sulit untuk tetap bertahan di keputusan yang telah ditetapkan sejak semula.
Dalam hal monitoring investasi yang telah Anda alokasikan dan tempatkan akan lebih baik bila Anda melihat setiap enam bulan atau tiga bulan sekali. Hal ini bisa mungurangi keinginan Anda untuk menjual (karena perubahan sesaat) saham-saham atau investasi yang dimiliki.
Bagaimana Mengatasi Hal Ini?
Untuk menanggulangi emosi yang menghambat investasi Anda, langkah pertama adalah dengan melakukan otomatisasi menabung (menabung dengan memotong secara otomatis setiap bulan dari pendapatan) yang Anda lakukan sehingga tetap berjalan di perencanaan yang telah ditetapkan dan ada tiga tindakan yang sebaiknya dipertimbangkan, Dollar Cost Averaging, Rebalancing (membalance alokasi portfolio) dan Simplifiying (dibuat simpel).
“Dollar Cost Averaging”
Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencanaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).
Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.
Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor —atau dengan perkataan lain pasar saham— kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.
Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut DCA.
Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1- 2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.
Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.
Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.
Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).
DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.
Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Dengan mengabungkan otomatisasi pemotongan dana untuk tabungan, dan pola DCA, potensi tujuan yang diinginkan dalam jangka panjang menjadi meningkat. Dalam banyak hal—-termasuk investasi—-tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.
“Rebalancing and Simplifying”
Merancang ulang target alokasi porfolio yang Anda miliki sehingga sesuai dengan investasi yang telah ditetapkan disebut dengan rebalancing. Rebalancing ini bisa dengan membeli saham atau obligasi bila terjadi perubahan harga. Misalkan dari total investasi yang Anda miliki, Anda mengalokasikan 20 persen di saham. Karena pasar modal sedang naik, nilai total investasi di saham jadi meningkat, yang tadinya persentasinya hanya 20 persen menjadi 30 persen dari total investasi. Sehingga Anda befikir untuk mengubah alokasi portfolio seperti semula yaitu dengan menjual sebagai saham yang dimiliki dana dibelikan obligasi atau investasi pasar uang.
Coba untuk menjadi investasi yang Anda lakukan semudah dan sesimpel mungkin. Hindari investasi yang mengharuskan Anda untuk mengambil terlalu banyak keputusan. Tempatkan investasi dalam bentuk reksadana karena produk ini banyak memberikan keunggulan seperti ases ke berbagai instrumen investasi, tingkat likuiditas yang tinggi, dikelola oleh manajer investasi profesional dan lain-lain.
Demikianlah penjelasan kami seputar emosi dalam pengambilan keputusan investasi. Kenali berbagai emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan coba untuk emgatasinya dengan menetapkan perencanaan dan melakukan ketiga tindakan dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan potensi pencapaian tujuan yang selama ini diidamkan.n
Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis
Mereka melakukan hal tersebut karena mereka manusia dan mereka juga kurang memiliki ketetapan hati dalam melaksanakan perencanaan yang telah dibuat atau malah tidak memiliki perencanaan investasi sama sekali. Kita sering kali mengambil keputusan berdasarkan emosi semata yang bisa sangat merusak investasi yang telah dilakukan.
Dalam pembahasan kali ini kami mencoba memberikan perspektif dalam mengatasi dan mengenali sifat ini dan menjelaskan pentingnya sebuah perencanaan yang berkesinambungan guna mencapai tujuan yang diidamkan.
Tamak (“Greed”)
Sifat Pertama adalah Tamak (Greed). Sering terjadi, akibat ingin buru-buru mendapatkan keuntungan besar, investor lupa untuk berpikir rasional dan bertindak berdasarkan “naluri” yang ternyata lebih bersifat emosional. Misalnya, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat dari level 400-an dan untuk pertama kalinya kembali menembus ke level 700-an, banyak investor baru terangsang emosi tamaknya.
Saat itu, melihat banyak rekan atau tetangga mereka mendadak bisa beli mobil baru karena investasi di saham, para investor lugu tersebut tanpa pikir panjang langsung ikutan beli saham. Sayangnya, tak lama setelah mereka beli saham, IHSG justru menurun.
Apa jadinya? Karena kurangnya pengetahuan serta pola investasi yang sesuai bukan keuntungan yang didapat, melainkan kerugian. Maunya untung malah buntung.
Investor sangat dipengaruhi oleh informasi seputar performa sebuah investasi. Keputusan untuk mendapatkan keuntungan didasari oleh performa masa lalu sebuah investasi. Seperti kita ketahui, “past performance is no guarantee of future results”. Mungkin pada masa tersebut sebuah sektor yang dipilih oleh manajer investasi memberikan keuntungan yang tinggi. Begitu Anda mulai melihat pertumbuhan dari investasi tersebut Anda baru masuk. Namun, setelah beberapa waktu, sektor tersebut mulai melemah dan malah merugi.
Ekspektasi yang berlebihan
Karena investor merasa sangat tamak, hal ini bisa mengakibatkan Anda menjadi sangat mengharapkan sesuatu diluar kebiasaan tentang risiko investasi maupun keuntungan investasi. Menabung menjadi kurang dan mengakibatkan tidak tercapai tujuan yang diinginkan karena Anda mengharapkan keuntungan invetsai yang tidak realistik. Bila harapan Anda tidak terwujud Anda harus mencari alternatif investasi lain yang mungkin saja lebih tidak realistik, dengan harapan dapat mengejar kekurangan yang selama ini terjadi.
Takut (“Fear”)
Saat IHSG mulai menurun (lanjutan cerita diatas), pendulum emosi para investor baru tersebut beralih dari tamak menjadi Takut (Fear). Akibatnya mereka beramai-ramai keluar dari pasar. Jadi yang mereka lakukan bukannya beli murah jual mahal, melainkan beli mahal, jual murah, alias rugi.
Timbul rasa takut dikarenakan adanya potensi kerugian. Banyak research yang mengatakan bahwa kita lebih membeci kehilangan atau kekalahan dari pada kita mencintai kemenangan. Mengikuti perkembangan portfolio atau investasi yang Anda miliki setiap saat bisa sangat membahayakan. Seperti halnya bila Anda menginvestasikan dana di saham.
Bila Anda mengikuti perkembangan setiap saat, bila kecenderungan pasar lagi turun, Anda terangsang untuk menjual saham yang Anda miliki. Karena informasi yang diperoleh hampir setiap hari, seringkali sulit untuk tetap bertahan di keputusan yang telah ditetapkan sejak semula.
Dalam hal monitoring investasi yang telah Anda alokasikan dan tempatkan akan lebih baik bila Anda melihat setiap enam bulan atau tiga bulan sekali. Hal ini bisa mungurangi keinginan Anda untuk menjual (karena perubahan sesaat) saham-saham atau investasi yang dimiliki.
Bagaimana Mengatasi Hal Ini?
Untuk menanggulangi emosi yang menghambat investasi Anda, langkah pertama adalah dengan melakukan otomatisasi menabung (menabung dengan memotong secara otomatis setiap bulan dari pendapatan) yang Anda lakukan sehingga tetap berjalan di perencanaan yang telah ditetapkan dan ada tiga tindakan yang sebaiknya dipertimbangkan, Dollar Cost Averaging, Rebalancing (membalance alokasi portfolio) dan Simplifiying (dibuat simpel).
“Dollar Cost Averaging”
Perencanaan keuangan keluarga merupakan perencanaan yang berkesinambungan. Dibutuhkan disiplin dan motivasi yang kuat guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan keterbatasan pendapatan yang diperoleh setiap bulan, sangat dianjurkan bagi keluarga untuk memulai menyisihkan dana untuk tujuan keuangan sedini mungkin. Penempatan dan alokasi dana dilakukan secara reguler setiap bulan sesuai kesanggupan keuangan keluarga. Pola investasi ini biasa disebut dengan dollar cost averaging (DCA).
Berikut ini ilustrasi DCA untuk penempatan dana di bursa saham. Konsep DCA ada hubungannya dengan diversifikasi. Para investor di bursa saham berdiversifikasi dengan menanamkan uang tak hanya pada satu saham, tapi menyebarkannya pada banyak saham di pelbagai sektor. Gagasannya: bila satu sektor sedang lesu, mungkin sektor lain bisa mengompensasinya.
Diversifikasi seperti ini sudah lazim dan dikenal banyak orang. Masalahnya, bagaimana jika semua sektor —atau dengan perkataan lain pasar saham— kebetulan pada waktu tertentu sedang merosot? Dalam situasi ini, diversifikasi seperti itu tidak bisa berbuat banyak. Salah satu cara yang pasti ampuh untuk menghindari kerugian akibat merosotnya pasar saham adalah jangan berinvestasi di saham. Memang, dengan tidak berinvestasi di pasar saham berarti tak mengalami kerugian, tapi Anda juga tak akan mengalami keuntungan kalau pasar meroket seperti yang terjadi mulai pertengahan tahun 2003 sampai awal 2004.
Lalu, mesti bagaimana? Jangan khawatir, masih ada harapan. Ada satu jenis diversifikasi lagi yang dapat mengurangi risiko kerugian akibat kemerosotan pasar saham. Konsep yang satu ini bukan diversifikasi biasa, namanya diversifikasi waktu. Konsep aslinya sering disebut DCA.
Misalkan Anda punya uang Rp 1 miliar untuk diinvestasikan dalam bentuk saham. Berdasarkan hitungan rasio harga-pendapatan (price-earning ratio: PER) dan harga-nilai buku (price-to-book value: PBV), Anda pikir saham-saham di Bursa Efek Jakarta kini relatif murah. Kalau pasar meningkat pesat dalam tempo 1- 2 tahun, return yang akan diperoleh bisa sangat besar.
Kendati begitu, dalam jangka pendek Anda masih ragu dengan naik-turunnya pasar. Ada kemungkinan pasar masih melorot sejenak sebelum tinggal landas. Kalau uang Rp 1 miliar ini diinvestasikan sekarang dan ternyata pasar merosot, bisa runyam. Sebaliknya, kalau investasi ditunda dan ternyata pasar segera menguat, Anda ketinggalan kereta dan terpaksa gigit jari. Pendeknya, baik masuk terburu-buru maupun menunggu terlalu lama sama-sama bisa membuat Anda menyesal.
Alternatif konservatif untuk menghindari penyesalan itu adalah dengan menginvestasikan uang Anda secara bertahap, misalnya Rp 100 juta tiap bulan selama 10 bulan. Sambil menunggu, uang yang belum diinvestasi bisa dititip di broker dengan bunga setingkat bunga deposito (tentu saja hal ini harus dikonfirmasi dan dinegosiasikan dengan broker Anda). Dengan cara begitu, bila pasar masih menurun Anda tak akan terlalu menyesal masuk saat pasar masih relatif tinggi. Serupa dengan itu, bila pasar mulai meningkat, Anda juga tak terlalu menyesal terlambat masuk pasar.
Manfaat lain dari DCA: dengan membeli sedikit-sedikit, order belinya tak membuat harga naik. Bayangkan bila seorang investor punya uang Rp 1 triliun yang sekaligus diinvestasikan dalam satu hari. Order beli tersebut tak akan bisa dipenuhi tanpa menyebabkan harga saham naik untuk sementara, terutama bila saham-saham yang dipesan kurang likuid (nilai transaksi normal per harinya hanya sedikit).
DCA juga berlaku bila Anda berencana menginvestasikan sebagian penghasilan Anda setiap bulan secara teratur. Untuk investasi yang relatif sedikit, Anda dianjurkan menggunakan sarana investasi reksadana. Dengan menggunakan reksadana, investasi Anda telah terdiversifikasi dalam banyak saham yang dimiliki oleh reksadana itu. Jadi, diversifikasi saham didelegasikan kepada reksadana, sementara diversifikasi waktu langsung Anda kendalikan sendiri.
Diversifikasi waktu melalui DCA memerlukan disiplin dan horison investasi jangka panjang. Dengan mengabungkan otomatisasi pemotongan dana untuk tabungan, dan pola DCA, potensi tujuan yang diinginkan dalam jangka panjang menjadi meningkat. Dalam banyak hal—-termasuk investasi—-tanpa perencanaan, disiplin, dan kesabaran sulit untuk mencapai hal yang Anda idam-idamkan.
“Rebalancing and Simplifying”
Merancang ulang target alokasi porfolio yang Anda miliki sehingga sesuai dengan investasi yang telah ditetapkan disebut dengan rebalancing. Rebalancing ini bisa dengan membeli saham atau obligasi bila terjadi perubahan harga. Misalkan dari total investasi yang Anda miliki, Anda mengalokasikan 20 persen di saham. Karena pasar modal sedang naik, nilai total investasi di saham jadi meningkat, yang tadinya persentasinya hanya 20 persen menjadi 30 persen dari total investasi. Sehingga Anda befikir untuk mengubah alokasi portfolio seperti semula yaitu dengan menjual sebagai saham yang dimiliki dana dibelikan obligasi atau investasi pasar uang.
Coba untuk menjadi investasi yang Anda lakukan semudah dan sesimpel mungkin. Hindari investasi yang mengharuskan Anda untuk mengambil terlalu banyak keputusan. Tempatkan investasi dalam bentuk reksadana karena produk ini banyak memberikan keunggulan seperti ases ke berbagai instrumen investasi, tingkat likuiditas yang tinggi, dikelola oleh manajer investasi profesional dan lain-lain.
Demikianlah penjelasan kami seputar emosi dalam pengambilan keputusan investasi. Kenali berbagai emosi yang mempengaruhi pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan coba untuk emgatasinya dengan menetapkan perencanaan dan melakukan ketiga tindakan dalam jangka panjang. Hal ini akan meningkatkan potensi pencapaian tujuan yang selama ini diidamkan.n
Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis
Tabungan atau Asuransi Pendidikan
Produk-produk investasi kian beragam. Nah, untuk si kecil Anda, banyak program yang bisa diambil untuk jaminan masa depannya. Pilih mana antara asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan?
Berikut pertanyaan seputar masalah tersebut:
Saya berencana bulan Januari 2008 nanti mendaftarkan anak saya yang genap berusia 2 tahun ke salah satu produk tabungan pendidikan. Namun saya belum terlalu paham bagaimana seluk beluk mengenai tabungan pendidikan itu. Dan juga saya masih bingung antara memilih produk tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Yang ingin saya
tanyakan adalah :
1. Produk mana yang sebaiknya saya pilih antara asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan. Apa kelebihan dari masing-masing produk tersebut?
2. Jika saya menyetorkan dana sebesar Rp 200.000 per bulan, bagaimanakah hitung-hitungannya nanti dari masing-masing produk selama masa kepesertaan?
Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas jawabannya.
Jawaban :
Bapak/Ibu di tempat, baik tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan keduanya dapat dipakai untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Kita menguraikannya satu persatu.
Tabungan pendidikan umumnya dijual oleh pihak bank, dengan backup oleh perusahaan asuransi jiwa. Jadi kita dapat datang ke bank yang menjual tabungan pendidikan ini, dan kita menentukan berapa besar target kita dan berapa lama target itu akan dicapai. Lalu pihak bank akan menentukan berapa besar setoran bulanan yang harus dilakukan dengan menyertakan tingkat bunga yang diberikan selama masa kontrak.
Umumnya tabungan pendidikan ini dilengkapi dengan asuransi jiwa atau asuransi lainnya. Jadi saat orangtua yang menyetor setiap bulan mengalami musibah, misalnya meninggal dunia, maka pihak asuransi jiwa akan menggantikannya sebagai pihak penyetor. Jadi target dana pendidikan yang ditetapkan oleh orangtua tetap dapat dinikmati oleh anak.
Sedangkan asuransi pendidikan umumnya dibeli melalui perusahaan asuransi yang ditawarkan oleh para agennya. Nasabah akan menentukan berapa besar uang pertanggungannya setelah melihat manfaat asuransi yang akan dibayarkan. Dan perusahaan asuransi menentukan berapa besar premi yang harus dibayar secara sekaligus atau secara reguler, bisa tahunan, bisa enambulanan, tiga bulanan bahkan bulanan.
Manfaat asuransi yang ditawarkan umumnya prosentase tertentu dari Uang Pertanggungan dan dibayarkan saat anak mau masuk ke tingkat SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Dan manfaat tersebut akan tetap dibayarkan meskipun orangtua sebagai pembayar preminya mengalami musibah, misalnya meninggal dunia.
Baik tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan keduanya dapat digunakan sebagai alternatif untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Tabungan pendidikan hanya mempersiapkan di satu titik saja, misalnya untuk masuk SD saja, atau SMP saja.
Jika ingin lengkap seperti asuransi pendidikan, maka kita harus membeli 4 produk tabungan pendidikan ini, dengan target dana dan masa pencapaian yang berbeda. Tetapi justru di sinilah letak fleksibilitas dari tabungan pendidikan. Saat ini tingkat bunga dari tabungan pendidikan mengacu pada deposito atau sedikit di atas deposito yang dijualnya, sedangkan tingkat bunga asuransi pendidikan lebih konservatif.
Ada satu pilihan yang disarankan dengan memecah manfaat asuransi dan pemupukan dananya. Misalnya kita membeli asuransi jiwa berjangka dengan Uang Pertanggungan sesuai target dana pendidikan dan waktu pencapaian yang ditetapkan. Kemudian secara rutin, Bapak menyetorkan sejumlah dana tertentu ke investasi yang diinginkan, misalnya ke reksadana.
Kita juga dapat memilih instrumen investasi yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi dan tentunya risiko tinggi pula. Jadi dengan metode ini, Bapak dapat memperoleh Uang Pertanggungan asuransi yang tinggi dan hasil investasi yang optimal. Kuncinya hanya satu yaitu disiplin.
Selamat mempersiapkan dana pendidikan anak.
Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning
diambil dari detikFinance
Berikut pertanyaan seputar masalah tersebut:
Saya berencana bulan Januari 2008 nanti mendaftarkan anak saya yang genap berusia 2 tahun ke salah satu produk tabungan pendidikan. Namun saya belum terlalu paham bagaimana seluk beluk mengenai tabungan pendidikan itu. Dan juga saya masih bingung antara memilih produk tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Yang ingin saya
tanyakan adalah :
1. Produk mana yang sebaiknya saya pilih antara asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan. Apa kelebihan dari masing-masing produk tersebut?
2. Jika saya menyetorkan dana sebesar Rp 200.000 per bulan, bagaimanakah hitung-hitungannya nanti dari masing-masing produk selama masa kepesertaan?
Demikian pertanyaan saya, terima kasih atas jawabannya.
Jawaban :
Bapak/Ibu di tempat, baik tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan keduanya dapat dipakai untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Kita menguraikannya satu persatu.
Tabungan pendidikan umumnya dijual oleh pihak bank, dengan backup oleh perusahaan asuransi jiwa. Jadi kita dapat datang ke bank yang menjual tabungan pendidikan ini, dan kita menentukan berapa besar target kita dan berapa lama target itu akan dicapai. Lalu pihak bank akan menentukan berapa besar setoran bulanan yang harus dilakukan dengan menyertakan tingkat bunga yang diberikan selama masa kontrak.
Umumnya tabungan pendidikan ini dilengkapi dengan asuransi jiwa atau asuransi lainnya. Jadi saat orangtua yang menyetor setiap bulan mengalami musibah, misalnya meninggal dunia, maka pihak asuransi jiwa akan menggantikannya sebagai pihak penyetor. Jadi target dana pendidikan yang ditetapkan oleh orangtua tetap dapat dinikmati oleh anak.
Sedangkan asuransi pendidikan umumnya dibeli melalui perusahaan asuransi yang ditawarkan oleh para agennya. Nasabah akan menentukan berapa besar uang pertanggungannya setelah melihat manfaat asuransi yang akan dibayarkan. Dan perusahaan asuransi menentukan berapa besar premi yang harus dibayar secara sekaligus atau secara reguler, bisa tahunan, bisa enambulanan, tiga bulanan bahkan bulanan.
Manfaat asuransi yang ditawarkan umumnya prosentase tertentu dari Uang Pertanggungan dan dibayarkan saat anak mau masuk ke tingkat SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Dan manfaat tersebut akan tetap dibayarkan meskipun orangtua sebagai pembayar preminya mengalami musibah, misalnya meninggal dunia.
Baik tabungan pendidikan maupun asuransi pendidikan keduanya dapat digunakan sebagai alternatif untuk mempersiapkan dana pendidikan anak. Tabungan pendidikan hanya mempersiapkan di satu titik saja, misalnya untuk masuk SD saja, atau SMP saja.
Jika ingin lengkap seperti asuransi pendidikan, maka kita harus membeli 4 produk tabungan pendidikan ini, dengan target dana dan masa pencapaian yang berbeda. Tetapi justru di sinilah letak fleksibilitas dari tabungan pendidikan. Saat ini tingkat bunga dari tabungan pendidikan mengacu pada deposito atau sedikit di atas deposito yang dijualnya, sedangkan tingkat bunga asuransi pendidikan lebih konservatif.
Ada satu pilihan yang disarankan dengan memecah manfaat asuransi dan pemupukan dananya. Misalnya kita membeli asuransi jiwa berjangka dengan Uang Pertanggungan sesuai target dana pendidikan dan waktu pencapaian yang ditetapkan. Kemudian secara rutin, Bapak menyetorkan sejumlah dana tertentu ke investasi yang diinginkan, misalnya ke reksadana.
Kita juga dapat memilih instrumen investasi yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi dan tentunya risiko tinggi pula. Jadi dengan metode ini, Bapak dapat memperoleh Uang Pertanggungan asuransi yang tinggi dan hasil investasi yang optimal. Kuncinya hanya satu yaitu disiplin.
Selamat mempersiapkan dana pendidikan anak.
Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning
diambil dari detikFinance
Asuransi dan Investasi
Perencana Keuangan seperti Pak Safir Senduk, bahkan Penulis/Pembicara terkemuka seperti TDW, Michael LeBoeuf, Ph.D dalam bukunya "the Millionaire in You" menegaskan bahwa:
Jangan campur adukkan asuransi dan investasi, maksudnya:
1. Belilah asuransi untuk proteksi dan perlindungan untuk memberikan jaminan keuangan
dari berbagai musibah, termasuk sakit dan kematian.
2. Ber-investasi-lah di Perusahaan Investasi.
Ada beberapa hal dasar penyampaian 2 hal tsb. di atas:
1. Ber-investasi sendiri akan memberikan RETURN yang lebih besar dan SEGERA
2. Ber-investasi sendiri memberikan akses yang lebih luas kepada kita untuk
mengatur port-folio dan memindah2kan
3. Ber-investasi sendiri tidak dikenakan biaya yang besar
Ber-investasi di Perusahaan Asuransi dengan membeli UNIT-LINK ada beberapa kekurangan:
1. Dana Anda baru akan mencapai Break Even Point pada tahun ke 4, ada yang tahun ke 5 atau 6
Jadi akan mengalami kerugian bila mencairkannya sebelum tahun ke 4.
Mengapa??? Karena Perusahaan Asuransi membayar biaya komisi agen yang besar, biaya iklan Agen di Surat Kabar yang sangat besar, dan biaya Jalan2 ke Luar Negri
2. Akses Anda kepada investasi tidak se-leluasa Anda ber-investasi sendiri
Investasi di Asuransi memiliki kelebihan sbb.:
1. Anda yang repot dan tidak punya waktu, maka instrumen ini cocok
2. Anda yang tidak disiplin dan tidak mampu mengendalikan diri, instrumen ini pas
3. Anda yang awam dan tidak mau belajar bagaimana ber-investasi sendiri, instrumen ini OK
Sekali lagi kami sampaikan tanpa memiliki kepentingan apapun dibalik tulisan kami, maka kami sarankan kepada Anda untuk memisahkan ke 2 (dua) unsur ini.
Asuransi harus dibeli untuk "Financial Security & Peace of Mind"
Investasi harus ditata untuk "Financial Independent & Happy Life"
Demikian dan semoga bermanfaat.
Freddy Pieloor, Praktisi & Konsultan Asuransi & Perencana Keuangan
Jangan campur adukkan asuransi dan investasi, maksudnya:
1. Belilah asuransi untuk proteksi dan perlindungan untuk memberikan jaminan keuangan
dari berbagai musibah, termasuk sakit dan kematian.
2. Ber-investasi-lah di Perusahaan Investasi.
Ada beberapa hal dasar penyampaian 2 hal tsb. di atas:
1. Ber-investasi sendiri akan memberikan RETURN yang lebih besar dan SEGERA
2. Ber-investasi sendiri memberikan akses yang lebih luas kepada kita untuk
mengatur port-folio dan memindah2kan
3. Ber-investasi sendiri tidak dikenakan biaya yang besar
Ber-investasi di Perusahaan Asuransi dengan membeli UNIT-LINK ada beberapa kekurangan:
1. Dana Anda baru akan mencapai Break Even Point pada tahun ke 4, ada yang tahun ke 5 atau 6
Jadi akan mengalami kerugian bila mencairkannya sebelum tahun ke 4.
Mengapa??? Karena Perusahaan Asuransi membayar biaya komisi agen yang besar, biaya iklan Agen di Surat Kabar yang sangat besar, dan biaya Jalan2 ke Luar Negri
2. Akses Anda kepada investasi tidak se-leluasa Anda ber-investasi sendiri
Investasi di Asuransi memiliki kelebihan sbb.:
1. Anda yang repot dan tidak punya waktu, maka instrumen ini cocok
2. Anda yang tidak disiplin dan tidak mampu mengendalikan diri, instrumen ini pas
3. Anda yang awam dan tidak mau belajar bagaimana ber-investasi sendiri, instrumen ini OK
Sekali lagi kami sampaikan tanpa memiliki kepentingan apapun dibalik tulisan kami, maka kami sarankan kepada Anda untuk memisahkan ke 2 (dua) unsur ini.
Asuransi harus dibeli untuk "Financial Security & Peace of Mind"
Investasi harus ditata untuk "Financial Independent & Happy Life"
Demikian dan semoga bermanfaat.
Freddy Pieloor, Praktisi & Konsultan Asuransi & Perencana Keuangan
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG
ANAK MUDA
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya terlalu muda untuk memikirkan mengenai tabungan. Saya baru mulai dalam kehidupan dan saya juga tidak mempunyai sesuatu untuk ditabung. Saya terlalu sibuk untuk bermain. Suatu hari kelak saya akan menabung
ANAK REMAJA
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya masih muda dan masih sekolah. Saya tidak dapat menabung sementara uang saku saya masih pas-pasan. Disamping itu, ada hal lebih baik yang dapat saya lakukan dengan uang saya. Jika saya lulus sekolah dan mulai mempunyai penghasilan, maka saya akan menabung
DUA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya baru saja mulai bekerja. Saya harus membayar kembali pinjaman sekolah dan ada pinjaman untuk mobil juga. Saya belum siap membuat komitmen sekarang dan saya ingin bersenang-senang sementara saya dapat. Akan ada waktu kelak untuk memikirkan mengenai tabungan, pada waktu itu saya akan menabung.
TIGA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya mempunyai keluarga dan pertanggungan. Biayanya mahal untuk mendidik anak-anak dan ada hipotek atas rumah juga. Seluruh penghasilan saya habis untuk segala keperluan kehidupan. Ketika saya menghasilkan lebih banyak dan anak-anak lebih tua, maka saya akan menabung.
EMPAT PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Anak-anak saya di universitas dan biaya-biayanya memuncak. Kemudian, ada pernikahan. Saya ingin membantu anak-anak memulai kehidupan mereka. Biaya pengeluaran sedang tinggi-tingginya.dan sekarang waktu yang sulit untuk menabung, tetapi situasi akan segera membaik. Pada waktu itu saya akan menabung.
LIMA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Hal-hal ternyata tidak berjalan seperti saya perkirakan semula. Tidaklah mudah jika anda terkunci dan tidak ada kesempatan untuk naik pada tangga karier. Saya tidak dapat meninggalkan semuanya dan memulai sebuah karier baru. Saya membantu orangtua saya juga, sekarang ketika mereka memerlukan bantuan. Penghasilan saya hampir saja tidak cukup. Sesuatu akan membuka dan pada waktu itu saya akan menabung.
ENAM PULUHAN
SAYA TIDAK BISA MENABUNG SEKARANG. Tadinya saya kira kehidupan akan lebih baik. Saya ingin mengambil pensiun lebih awal tetapi saya tidak dapat melakukannya. Saya mencoba membayar sisa-sisa hipotek dan ada tagihan lain yang harus ditangani, dan mereka bertmpuk-tumpuk. Memikirkan cucu-cucu dan hal-hal lain menghabiskan segala sesuatu yang saya miliki. Saya rasa memang hidup demikian. Seandainya saya dapat menabung
TUJUH PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya terlalu tua untuk menabung. Cek social security saya dan pensiun saya tidak mencukupi. Tagihan biaya pengobatan dan perawatan jangka panjang benar-benar mencemaskan saya. Saya tidak suka menjadi beban bagi anak-anak saya. Seandainya saya telah menabung ketika seharusnya saya melakukannya. Sekarang sudah terlambat.
SAYA BENAR-BENAR TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya terlalu muda untuk memikirkan mengenai tabungan. Saya baru mulai dalam kehidupan dan saya juga tidak mempunyai sesuatu untuk ditabung. Saya terlalu sibuk untuk bermain. Suatu hari kelak saya akan menabung
ANAK REMAJA
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya masih muda dan masih sekolah. Saya tidak dapat menabung sementara uang saku saya masih pas-pasan. Disamping itu, ada hal lebih baik yang dapat saya lakukan dengan uang saya. Jika saya lulus sekolah dan mulai mempunyai penghasilan, maka saya akan menabung
DUA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya baru saja mulai bekerja. Saya harus membayar kembali pinjaman sekolah dan ada pinjaman untuk mobil juga. Saya belum siap membuat komitmen sekarang dan saya ingin bersenang-senang sementara saya dapat. Akan ada waktu kelak untuk memikirkan mengenai tabungan, pada waktu itu saya akan menabung.
TIGA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya mempunyai keluarga dan pertanggungan. Biayanya mahal untuk mendidik anak-anak dan ada hipotek atas rumah juga. Seluruh penghasilan saya habis untuk segala keperluan kehidupan. Ketika saya menghasilkan lebih banyak dan anak-anak lebih tua, maka saya akan menabung.
EMPAT PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Anak-anak saya di universitas dan biaya-biayanya memuncak. Kemudian, ada pernikahan. Saya ingin membantu anak-anak memulai kehidupan mereka. Biaya pengeluaran sedang tinggi-tingginya.dan sekarang waktu yang sulit untuk menabung, tetapi situasi akan segera membaik. Pada waktu itu saya akan menabung.
LIMA PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Hal-hal ternyata tidak berjalan seperti saya perkirakan semula. Tidaklah mudah jika anda terkunci dan tidak ada kesempatan untuk naik pada tangga karier. Saya tidak dapat meninggalkan semuanya dan memulai sebuah karier baru. Saya membantu orangtua saya juga, sekarang ketika mereka memerlukan bantuan. Penghasilan saya hampir saja tidak cukup. Sesuatu akan membuka dan pada waktu itu saya akan menabung.
ENAM PULUHAN
SAYA TIDAK BISA MENABUNG SEKARANG. Tadinya saya kira kehidupan akan lebih baik. Saya ingin mengambil pensiun lebih awal tetapi saya tidak dapat melakukannya. Saya mencoba membayar sisa-sisa hipotek dan ada tagihan lain yang harus ditangani, dan mereka bertmpuk-tumpuk. Memikirkan cucu-cucu dan hal-hal lain menghabiskan segala sesuatu yang saya miliki. Saya rasa memang hidup demikian. Seandainya saya dapat menabung
TUJUH PULUHAN
SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG. Saya terlalu tua untuk menabung. Cek social security saya dan pensiun saya tidak mencukupi. Tagihan biaya pengobatan dan perawatan jangka panjang benar-benar mencemaskan saya. Saya tidak suka menjadi beban bagi anak-anak saya. Seandainya saya telah menabung ketika seharusnya saya melakukannya. Sekarang sudah terlambat.
SAYA BENAR-BENAR TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG
Produk asuransi atau investasi apa yang benar- benar menguntungkan untuk nasabahnya
Di sebuah milis yang saya ikuti, seorang anggotanya bertanya mengenai produk asuransi atau investasi apa yang benar- benar menguntungkan untuk nasabah-nya.
Berikut ini jawaban yang saya diberikan.
Sebenarnya sebelum menjawab pertanyaan. Harus ditanya dulu nih...
Tujuannya memiliki asuransi atau investasi itu apa?
Berbicara mengenai investasi yang menguntungkan, ini bisa dilihat lagi.
Seberapa jauh Anda bisa menerima resiko kerugian...
Misalnya nih...
0% loss tolerance, kalau Anda tipe yang seperti ini... mungkin ada baiknya memilih deposito sebagai model investasi:-) Tapi karena 0% loss, return-nya juga kecil donk...
Tapi kalo Anda adalah seorang risk-taker, mungkin Anda bisa coba 'bermain' saham. Di sini resiko tinggi, tapi keuntungan yang didapat juga sangat besar...
Atau Anda berada di antaranya...
Pilihan investasinya bisa berupa properti (modal besaaaar) atau bisa juga pilih reksadana.
Enaknya reksadana, kita gak perlu repot untuk memikirkan kita harus beli apa-jual apa, mengamati index tiap hari, atau bla bla bla... yang cukup memusingkan untuk yang gak ngerti. Semuanya diurus oleh manager investasi.
Pilihan reksadana juga macam-macam: saham, obligasi pemerintah, atau campuran keduanya. Kita masih bisa memilih dan mengubah pilihan dari waktu ke waktu.
Soal harga. Investasi melalui reksadana, ada minimal-nya. Tiap Manager Investasi beda aturan. Ada yang sekali masuk bisa cuma ratusan ribu, atau ada yang harus ratusan juta. Tergantung budget:-)
Selain ada investasi minimal, di reksadana juga ada pilihan top-up. Aturan tiap manager investasi mengenai hal ini juga bervariasi, ada yang membebankan biaya administrasi saat kita melakukan top-up, ada yang free of charge. Sebaiknya cari yang biaya administrasinya serendah mungkin, sebagai gambaran biaya administrasi 4% untuk top-up itu sudah terbilang tinggi.
Soal asuransi, ini pun sesuai kebutuhan.
Asuransi tradisional
Ciri khasnya adalah manfaatnya pasti. Misalkan untuk asuransi pendidikan, tahun ke-sekian nasabah akan mendapatkan uang sekian. Nominalnya sudah pasti, tidak akan ada perubahan lagi.
Asuransi non-tradisional,
yaitu asuransi yang dipadu dengan wadah investasi. Disebut juga unit link. Asuransi model begini, besar manfaatnya sangat tergantung pada kondisi investasi dan alokasi investasi yang kita pilih.
Nah, sebelum memutuskan untuk memilih produk investasi atau asuransi tertentu, sebaiknya cari informasi sebanyak mungkin dari agen, teman, relasi mengenai produk pilihan kita.
Kalau perlu lakukan study banding.
Misal kita memilih produk asuransi tertentu. Kumpulkan sebanyak mungkin proposal dari berbagai agen asuransi yang berbeda. Baca tiap proposal dengan teliti dan seksama, kemudian pilih yang paling menguntungkan untuk kita. Kalau diperlukan minta bantuan untuk membaca proposal yang Anda terima.
Berikut ini jawaban yang saya diberikan.
Sebenarnya sebelum menjawab pertanyaan. Harus ditanya dulu nih...
Tujuannya memiliki asuransi atau investasi itu apa?
Berbicara mengenai investasi yang menguntungkan, ini bisa dilihat lagi.
Seberapa jauh Anda bisa menerima resiko kerugian...
Misalnya nih...
0% loss tolerance, kalau Anda tipe yang seperti ini... mungkin ada baiknya memilih deposito sebagai model investasi:-) Tapi karena 0% loss, return-nya juga kecil donk...
Tapi kalo Anda adalah seorang risk-taker, mungkin Anda bisa coba 'bermain' saham. Di sini resiko tinggi, tapi keuntungan yang didapat juga sangat besar...
Atau Anda berada di antaranya...
Pilihan investasinya bisa berupa properti (modal besaaaar) atau bisa juga pilih reksadana.
Enaknya reksadana, kita gak perlu repot untuk memikirkan kita harus beli apa-jual apa, mengamati index tiap hari, atau bla bla bla... yang cukup memusingkan untuk yang gak ngerti. Semuanya diurus oleh manager investasi.
Pilihan reksadana juga macam-macam: saham, obligasi pemerintah, atau campuran keduanya. Kita masih bisa memilih dan mengubah pilihan dari waktu ke waktu.
Soal harga. Investasi melalui reksadana, ada minimal-nya. Tiap Manager Investasi beda aturan. Ada yang sekali masuk bisa cuma ratusan ribu, atau ada yang harus ratusan juta. Tergantung budget:-)
Selain ada investasi minimal, di reksadana juga ada pilihan top-up. Aturan tiap manager investasi mengenai hal ini juga bervariasi, ada yang membebankan biaya administrasi saat kita melakukan top-up, ada yang free of charge. Sebaiknya cari yang biaya administrasinya serendah mungkin, sebagai gambaran biaya administrasi 4% untuk top-up itu sudah terbilang tinggi.
Soal asuransi, ini pun sesuai kebutuhan.
Asuransi tradisional
Ciri khasnya adalah manfaatnya pasti. Misalkan untuk asuransi pendidikan, tahun ke-sekian nasabah akan mendapatkan uang sekian. Nominalnya sudah pasti, tidak akan ada perubahan lagi.
Asuransi non-tradisional,
yaitu asuransi yang dipadu dengan wadah investasi. Disebut juga unit link. Asuransi model begini, besar manfaatnya sangat tergantung pada kondisi investasi dan alokasi investasi yang kita pilih.
Nah, sebelum memutuskan untuk memilih produk investasi atau asuransi tertentu, sebaiknya cari informasi sebanyak mungkin dari agen, teman, relasi mengenai produk pilihan kita.
Kalau perlu lakukan study banding.
Misal kita memilih produk asuransi tertentu. Kumpulkan sebanyak mungkin proposal dari berbagai agen asuransi yang berbeda. Baca tiap proposal dengan teliti dan seksama, kemudian pilih yang paling menguntungkan untuk kita. Kalau diperlukan minta bantuan untuk membaca proposal yang Anda terima.
Saham itu Halal & Menguntungkan
Tak benar anggapan bahwa berinvestasi dalam bentuk pembelian saham itu haram. Karena prinsip pasar modal sangat islami yaitu memaki cara bagi hasil, di mana orang membeli saham setelah perusahaan untung maka pembeli mendapat untung [deviden]
"Bukankah prinsip tersebut sesuai syariah? Maka tak perlu ragu, apalagi setelah ada legalisasi halal dari MUI yang menyatakan transaksi saham itu halal," tegas Erry sambil mengingatkan dasarnya harus dipahami bahwa membeli saham sama dengan menaruh modal pada perusahaan yang kita percaya memiliki.
Bursa Syariah
Bagi masyarakat muslim ada berita menggembirakan karena Bursa Efek Jakarta sejak tahun 2006 sudah membuka bursa saham syariah. Syariah capital market ini anggotanya adalah perusahaan-perusahaan yang beroperasi secara syariah.
"Anda bisa memilih berbagai saham syariah yang kini sudah lebih 200 jenis saham dan 30 saham lainnya sudah masuk Jakarta Islamic Index. Jumlah itu terus bertambah," kata sarjana Akuntansi UI ini, sambil mengingatkan bahwa semua perusahaan ini sebelumnya harus memenuhi standar syariah dari Dewan Syariah Nasional dan diseleksi oleh Komite Syariah.
Meski belum populer namun Erry optimis bursa saham syariah akan disambut masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Ia membeberkan fakta di mana banyak masyarakat yang berinvestasi dalam MLM dan investasi lain. Bahkan karena tak sabar dan ingin cepat kaya mereka tak berhati-hati dan trejebak dalam perusahaan yang berkedok MLM dan akhirnya rugi karena modalnya dibawa kabur. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat kita sangat suka berinvestasi. "Nah, BEJ berusaha memberikan jalan investasi yang baik dan aman dengan berbagai pilihan produk."
Bagaimana dengan partipasi masyarakat pada bursa? Dibandingkan dengan jumlah penduduk 200juta maka partisipasi masyarakat pada bursa saham masih sangat kecil. Saat ini baru ada 600.000 account member. Bandingkan dengan Singapura dengan 4,5juta penduduk memiliki 1,5juta account, dan Malaysia dengan 21juta penduduk punya 3,5juta.
Sebagai gambaran pasar modal syariah, yang paling maju justru terjadi di Inggris. Di mana pemahaman syariah masyrakat lebih moderat. Masyarakat muslim Indonesia pun tergolong moderat terutama yang di perkotaan.
"Saya yakin potensi kita sangat besar. Kalau Inggris saja maju mengapa kita tidak bisa?" retorisnya. Optimisme itu pun dilatari juga oleh fakta bahwa jaminan simpanan di bank pun kini terbatas sampai 100juta, bunga deposito juga turun dan tinggal satu digit, belum lagi inflasi. Jadi berharap keuntungan pada saham cukup realistis. Untuk itulah Erry berharap di tahun-tahun mendatang masyarakat akan lebih banyak menginvestasikan uangnya ke saham.
Keuntungan
Ada dua keuntungan dalam investasi saham; pertama capital gain [keuntungan hasil selisih jual beli saham]. Misalnya kita beli Rp2.000 kemudian dijual Rp2.500, selisih Rp500 adalah keuntungan [capital gain]. Keuntungan ini semakin besar bila saham yang kita miliki semakin banyak.
Kedua; devide3n yaitu pembagian keuntngan dari perusahaan kepada seluruh pemegang saham.
Sebagaimana investasi lain 'main' saham pun ada resikonya; pertama capital loss di mana kita menjual saham di bawah harga saat kita beli. MIsalnya saat beli Rp2.500 kemudian harga saham perusahaan itu menurun lalu dijual dengan harga Rp2.400, maka kita rugi Rp100. Kedua; perusahaan dilikuidasi karena dinyatakan bankrut oleh pengadilan. Meski kemungkinan ini sangat kecil, namun hal ini harus diketahui.
Tips Bagi Pemula
Untuk masyarakat yang baru berinvestasi saham, Erry menyarankan agar membeli Reksadana. "Dengan reksadana, uang kita dikelola oleh manajer investasi yang bagus dan ahli dalam bidangnya. Mereka akan mengelola uang kita untuk mendapat keuntungan."
Reksadana juga tak mengharuskan kita memantau perkembangan perusahaan setiap saat. Dengan demikian tugas kita memantau prusahaan dan membaca prospek diambil alih oleh manajer investasi. Investasi reksadanapun tidak mahal, bisa dimulai dengan Rp200.000 - sampai tak terbatas. Semakin besar jumlah dana yang diinvestasikan semakin besar peluang untungnya.
Untuk yang akan berinvestasi saham langkah pertama adalah berhubungan dengan pialang yang mewakili perusahaan efek di kantor BEJ. Di sana akan dilayani kebutuhan pembelian dan penjualan saham. Pada dasarnya tidak ada minimal danan dan jumlah pembelian saham. Jumlah saham yang diperjualbelikan disebut lot [satu lot = 500 lembar saham]. MIsal harga saham PT. NooR Rp2.000, maka dana minimal untuk mmbeli 1lot menjadi [500xRp2.000] sejumlah Rp1.000.000. Semakin banyak dana yang diinvestasikan semakin besar pula kemungkinan keuntungan yang diperoleh.
Erry memberi saran agar aman dan untung maka pilihlah saham-saham bluechip, saham perusahaan yang bagus. Seperti perusahaan telekomunikasi, Telkom, atau perusahaan yang produknya banyak dibutuhkan masyarakat. Jangan masuk saham yang beresiko tinggi.
Nah, bagi Anda yang tak berani mengambil resiko kerugian dari perdagangan saham bisa memilih membeli surat obligasi pemerintah. Pilihan investasi ini di samping sangat aman dan hanya beresiko bila pemerintah mengalami kebankrutan.
Untuk menjadi nasabah perusahaan efek ternyata mudah. Seperti Anda membuka rekening bank saja, Anda tinggal membuka rekening di satu atau beberapa perusahaan efek. Anda tinggal memasukkan data nama, alamat, nomor telepon,dan data lain. Penting untuk kita memahami perjanjian karena itu termasuk hak dan kewajiban. Setelah itu Anda menjadi investor.
Erry Firmansyah [Direktur Utama Bursa Efek Jakarta]
sumber: Majalah NooR edisi April 2007
Investasi dan Tabungan
Tabungan, idealnya 40-50% dari income. Tapi kalau dirasa terlalu memberatkan, sah-sah aja kok kita sisihkan 10-20% aja.
Kalau masalah memilih di mana kita tempatkan tabungan kita, paling tepat adalah memilih sesuai karakter investasi kita.
Ini beberapa pilihan investasi:
Deposito dan Pasar Uang, ini cocok untuk orang-orang yang konservatif, tidak mau ada resiko. Lebih baik hasilnya kecil daripada kehilangan uang
Obligasi Pemerintah, cocok untuk orang-orang yang mau menerima resiko sedikit.
Saham, cocok untuk orang-orang mau menerima resiko besar, untu mendapatkan keuntungan besar juga.
Paling enak, kalau kita buta sama sekali tentang investasi, masuk aja di reksadana.
Reksadana adalah kumpulan saham atau obligasi pilihan, yang biasanya dipilih dan dikelola oleh satu manajer investasi.
Kita serahkan resiko salah memilih alokasi kepada manajer investasi, juga tidak perlu uang puluhan juta, 1 juta juga bisa. Beda kalau kita main di perusahaan sekuritas. Selain, perlu uang yang banyak (minimal puluhan juta), kita sendiri yang harus pinter memilih saham mana yang prospektif, karena resiko ditanggung sendiri, sehingga kemungkinan loss juga tinggi kalau kita nggak ngerti apa-apa.
Kalau masalah memilih di mana kita tempatkan tabungan kita, paling tepat adalah memilih sesuai karakter investasi kita.
Ini beberapa pilihan investasi:
Deposito dan Pasar Uang, ini cocok untuk orang-orang yang konservatif, tidak mau ada resiko. Lebih baik hasilnya kecil daripada kehilangan uang
Obligasi Pemerintah, cocok untuk orang-orang yang mau menerima resiko sedikit.
Saham, cocok untuk orang-orang mau menerima resiko besar, untu mendapatkan keuntungan besar juga.
Paling enak, kalau kita buta sama sekali tentang investasi, masuk aja di reksadana.
Reksadana adalah kumpulan saham atau obligasi pilihan, yang biasanya dipilih dan dikelola oleh satu manajer investasi.
Kita serahkan resiko salah memilih alokasi kepada manajer investasi, juga tidak perlu uang puluhan juta, 1 juta juga bisa. Beda kalau kita main di perusahaan sekuritas. Selain, perlu uang yang banyak (minimal puluhan juta), kita sendiri yang harus pinter memilih saham mana yang prospektif, karena resiko ditanggung sendiri, sehingga kemungkinan loss juga tinggi kalau kita nggak ngerti apa-apa.
Subscribe to:
Posts (Atom)